You are currently browsing the tag archive for the 'breaking news' tag.
Khawarij mempunyai ciri-ciri dan sifat-sifat yang menonjol. Sebaik-baik orang yang meluruskan sifat-sifat ini adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan sifat-sifat kaum ini dalam hadits-haditsnya yang mulia.
Disini akan dipaparkan penjelasan sifat-sifat tersebut dengan sedikit keterangan, hal itu mengingat terdapat beberapa perkara penting, antara lain
dengan mengetahui sifat-sifat ini akan terbukalah bagi kita ciri-ciri ghuluw (berlebih-lebihan) dan pelampauan batas mereka, dan tampaklah di mata kita sebab-sebab serta alasan-alasan pendorong yang menimbulkan hal itu. Dalam hal yang demikian itu akan menampakkan faedah yang tak terkira.
Keberadaan mereka akan tetap ada hingga di akhir zaman, seperti dikabarkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam satu riwayat. Oleh karenanya mengetahui sifat-sifat mereka adalah merupakan suatu perkara yang penting.
Dengan mengetahui sifat mereka dan mengenali keadaannya akan menjaga diri dari terjatuh ke dalamnya. Mengingat barangsiapa yang tidak mengetahui keburukan mereka, akan terperangkap di dalamnya. Dengan mengetahui sifat mereka, akan menjadikan kita waspada terhadap orang-orang yang mempunyai sifat-sifat tersebut, sehingga kita dapat mengobati orang yang tertimpa dengannya.
Berkenan dengan hal ini akan kami paparkan sifat-sifat tersebut berdasarkan hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia.
SUKA MENCELA DAN MENGANGGAP SESAT
Sifat yang paling nampak dari Khawarij adalah suka mencela terhadap para Aimatul Huda (para Imam), menganggap mereka sesat, dan menghukum atas mereka sebagai orang-orang yang sudah keluar dari keadilan dan kebenaran. Sifat ini jelas tercermin dalam pendirian Dzul Khuwaishirah terhadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan perkataanya : “Wahai Rasulullah berlaku adillah”. [Hadits Riwayat Bukhari VI/617, No. 3610, VIII/97, No. 4351, Muslim II/743-744 No. 1064, Ahmad III/4, 5, 33, 224].
Dzul Khuwaishirah telah menganggap dirinya lebih wara’ daripada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menghukumi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai orang yang curang dan tidak adil dalam pembagian. Sifat yang demikian ini selalu menyertai sepanjang sejarah. Hal itu mempunyai efek yang sangat buruk dalam hukum dan amal sebagai konsekwensinya. Berkata Ibnu Taimiyah tentang Khawarij :”Inti kesesatan mereka adalah keyakinan mereka berkenan dengan Aimmatul Huda (para imam yang mendapat petunjuk) dan jama’ah muslimin, yaitu bahwa Aimmatul Huda dan jama’ah muslimin semuanya sesat. Pendapat ini kemudian di ambil oleh orang-orang yang keluar dari sunnah, seperti Rafidhah dan yang lainnya. Mereka mengkatagorikan apa yang mereka pandang kedzaliman ke dalam kekufuran”. [Al-Fatawa : XXVIII/497].
BERPRASANGKA BURUK [SU'UDZAN]
Ini adalah sifat Khawarij lainnya yang tampak dalam hukum syaikh mereka Dzul Khuwaishirah si pandir dengan tuduhannya bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak ikhlas dengan berkata : “Artinya : Demi Allah, sesungguhnya ini adalah suatu pembagian yang tidak adil dan tidak dikehendaki di dalamnya wajah Allah”. [Hadits Riwayat Muslim II/739, No. 1062, Ahmad IV/321].
Dzul Khuwaishirah ketika melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membagi harta kepada orang-orang kaya, bukan kepada orang-orang miskin, ia tidak menerimanya dengan prasangka yang baik atas pembagian tersebut.
Ini adalah sesuatu yang mengherankan. Kalaulah tidak ada alasan selain pelaku pembagian itu adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam cukuplah hal itu mendorong untuk berbaik sangka. Akan tetapi Dzul Kuwaishirah enggan untuk itu, dan berburuk sangka disebabkan jiwanya yang sakit. Lalu ia berusaha menutupi alasan ini dengan keadilan. Yang demikian ini mengundang tertawanya iblis dan terjebak dalam perangkapnya.
Seharusnya seseorang itu introspeksi, meneliti secara cermat dorongan tindak tanduk dan maksud tujuan serta waspada terhadap hawa nafsunya. Hendaklah berjaga-jaga terhadap manuver-manuver iblis, karena dia banyak menghias-hiasi perbuatan buruk dengan bungkus indah dan rapi, dan membaguskan tingkah laku yang keji dengan nama dasar-dasar kebenaran yang mengundang seseorang untuk menentukan sikap menjaga diri dan menyelamatkan diri dari tipu daya setan dan perangkap-perangkapnya.
Jika Dzul Khuwaishirah mempunyai sedikit saja ilmu atau sekelumit pemahaman, tentu tidak akan terjatuh dalam kubangan ini.
Berikut kami paparkan penjelasan dari para ulama mengenai keagungan pembagian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan hikmahnya yang tinggi dalam menyelesaikan perkara.
Berkata Syaikh Islam Ibnu Taimiyah :” Pada tahun peperangan Hunain, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam membagi ghanimah (rampasan perang) Hunain pada orang-orang yang hatinya lemah (muallafah qulubuhum) dari penduduk Najd dan bekas tawanan Quraisy seperti ‘Uyainah bin Hafsh, dan beliau tidak memberi kepada para Muhajirin dan Anshar sedikitpun.
Maksud Beliau memberikan kepada mereka adalah untuk mengikat hati mereka dengan Islam, karena keterkaitan hati mereka dengannya merupakan maslahat umum bagi kaum muslimin, sedangkan yang tidak beliau beri adalah karena mereka lebih baik di mata Beliau dan mereka adalah wali-wali Allah yang bertaqwa dan seutama-utamanya hamba Allah yang shalih setelah para Nabi dan Rasul-rasul.
Jika pemberian itu tidak dipertimbangkan untuk maslahat umum, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak akan memberi pada aghniya’, para pemimpin yang dita’ati dalam perundangan dan akan memberikannya kepada Muhajirin dan Anshar yang lebih membutuhkan dan lebih utama.
Oleh sebab inilah orang-orang Khawarij mencela Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dikatakan kepada beliau oleh pelopornya :” Wahai Muhammad, berbuat adillah. Sesungguhnya engkau tidak berlaku adil “. dan perkataannya :” Sesungguhnya pembagian ini tidak dimaksudkan untuk wajah Allah …..”. Mereka, meskipun banyak shaum (berpuasa), shalat, dan bacaan Al-Qur’annya, tetapi keluar dari As-Sunnah dan Al-Jama’ah.
Memang mereka dikenal sebagai kaum yang suka beribadah, wara’ dan zuhud, akan tetapi tanpa disertai ilmu, sehingga mereka memutuskan bahwa pemberian itu semestinya tidak diberikan kecuali kepada orang-orang yang berhajat, bukan kepada para pemimpin yang dita’ati dan orang-orang kaya itu, jika di dorong untuk mencari keridhaan selain Allah -menurut persangkaan mereka-.
Inilah kebodohan mereka, karena sesungguhnya pemberian itu menurut kadar maslahah agama Allah. Jika pemberian itu akan semakin mengundang keta’atan kepada Allah dan semakin bermanfaat bagi agama-Nya, maka pemberian itu jauh lebih utama. Pemberian kepada orang-orang yang membutuhkan untuk menegakkan agama, menghinakan musuh-musuhnya, memenangkan dan meninggikannya lebih agung daripada pemberian yang tidak demikian itu, walaupun yang kedua lebih membutuhkan”. [Lihat Majmu' Fatawa : XXVIII/579-581, dengan sedikit diringkas].
Untuk itu hendaklah seseorang menggunakan bashirah, lebih memahami fiqh dakwah dan maksud-maksud syar’i, sehingga tidak akan berada dalam kerancuan dan kebingungan yang mengakibatkan akan terhempas, hilang dan berburuk sangka serta mudah mencela disertai dengan menegakkan kewajiban-kewajiban yang terpuji dan mulia.
BERLEBIHAN DALAM BERIBADAH
Sifat ini telah ditunjukkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya : “Artinya : Akan muncul suatu kaum dari umatku yang membaca Al-Qur’an, yang mana bacaan kalian tidaklah sebanding bacaan mereka sedikitpun, tidak pula shalat kalian sebanding dengan shalat mereka sedikitpun, dan tidak pula puasa kalian sebanding dengan puasa mereka sedikitpun”. [Muslim II/743-744 No. 1064].
Berlebihan dalam ibadah berupa puasa, shalat, dzikir, dan tilawah Al-Qur’an merupakan perkara yang masyhur di kalangan orang-orang Khawarij. Dalam Fathu Al-Bari, XII/283 disebutkan :”Mereka (Khawarij) dikenal sebagai qura’ (ahli membaca Al-Qur’an), karena besarnya kesungguhan mereka dalam tilawah dan ibadah, akan tetapi mereka suka menta’wil Al-Qur’an dengan ta’wil yang menyimpang dari maksud yang sebenarnya. Mereka lebih mengutamakan pendapatnya, berlebih-lebihan dalam zuhud dan khusyu’ dan lain sebagainya”.
Ibnu Abbas juga telah mengisyaratkan pelampauan batas mereka ini ketika pergi untuk mendebat pendapat mereka. Beliau berkata :”Aku belum pernah menemui suatu kaum yang bersungguh-sungguh, dahi mereka luka karena seringnya sujud, tangan mereka seperti lutut unta, dan mereka mempunyai gamis yang murah, tersingsing, dan berminyak. Wajah mereka menunjukan kurang tidur karena banyak berjaga di malam hari”. [Lihat Tablis Iblis, halaman 91]. Pernyataan ini menunjukkan akan ketamakan mereka dalam berdzikir dengan usaha yang keras.
Berkata Ibnul Jauzi :”Ketika Ali Radhiyallahu ‘Anhu meninggal, dikeluarkanlah Ibnu Maljam untuk dibunuh. Abdullah bin Ja’far memotong kedua tangan dan kedua kakinya, tetapi ia tidak mengeluh dan tidak berbicara. Lalu dicelak kedua matanya dengan paku panas, ia pun tidak mengeluh bahkan ia membaca : “Artinya : Bacalah dengan (menyebut) nama Rabb-mu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah”. [Al-'Alaq : 1-2].
Hingga selesai, walaupun kedua matanya meluluhkan air mata. Kemudian setelah matanya diobati, ia akan di potong lidahnya, baru dia mengeluh. Ketika ditanyakan kepadanya :”Mengapa engkau mengeluh ?. “Ia menjawab ;”Aku tidak suka bila di dunia menjadi mayat dalam keadaan tidak berdzikir kepada Allah”. Dia adalah seorang yang ke hitam-hitaman dahinya bekas dari sujud, semoga laknat Allah padanya”. [Tablis Iblis, hal. 94-95].
Mekipun kaum Khawarij rajin dalam beribadah, tetapi ibadah ini tidak bermanfa’at bagi mereka, dan mereka pun tidak dapat mengambil manfaat darinya. Mereka seolah-olah bagaikan jasad tanpa ruh, pohon tanpa buah, mengingat ahlaq mereka yang tidak terdidik dengan ibadahnya dan jiwa mereka tidak bersih karenanya serta hatinya tidak melembut. Padahal disyari’atkan ibadah adalah untuk itu. Berfirman yang Maha Tinggi :
“Artinya : ….Dan tegakkanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar ……”. [Al-Ankabut : 45]
“Artinya : ….Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa”. [Al-Baqarah : 183]
Tidaklah orang-orang bodoh tersebut mendapatkan bagian dari qiyamu al-lail-nya kecuali hanya jaga saja, tidak dari puasanya kecuali lapar saja, dan tidak pula dari tilawah-nya kecuali parau suaranya.
Keadaan Khawarij ini membimbing kita pada suatu manfaat seperti yang dikatakan Ibnu Hajar tentangnya :”Tidak cukuplah dalam ta’dil (menganggap adil) dari keadaan lahiriahnya, walau sampai yang dipersaksikan akan keadilannya itu pada puncak ibadah, miskin, wara’, hingga diketahui keadaan batinnya”. [Lihat Fathu Al-Bari XII/302].
[Dinukil dari kitab Zhahirah al-Ghuluw fi ad-Dien fi al-'Ashri al-Hadits, hal. 99-104, Muhammad Abdul Hakim Hamid, cet I, th 1991, Daarul Manar al-Haditsah, Majalah As-Sunnah Edisi 14/Th. ke 2, hal 20-34, penerjemah Aboe Hawari] Muhammad Abdul Hakim Hamid. www.almanhaj.or.id
Setidaknya demikian saya melihat. Kaum khowarij memiliki ciri sudut pandang terhadap orang kafir dan kekafiran sangat dominan. Takfir atau menuduhkan kekafiran kepada orang lain yang menurut mereka melakukan kesalahan tertentu terhadap Islam adalah ciri utama kaum khowarij. Termasuk dalam hal tersebut adalah menuduhkan kesesatan, kebid’ahan dan sebagainya; demikian setidaknya ciri dominan kaum khowarij.
Menilik sejarah, kaum khowarij adalah pelaku pembunuhan terhadap kholifah Utsman bin Affan (RA) karena ketidak cocokan perilaku kepemimpinan sang kholifah di mata mereka, maka darah adalah jawabannya.
Lalu munculah kepengecutan mereka ketika keluarga kholifah, Muawiyyah (RA), menuntut kematian sang kholifah. Para pengecut khowarij ini lari lintang pukang bersembunyi di pasukan Ali (RA). Lalu terjadilah fitnah itu. Pertumpahan darah antar kaum muslimin.
Karena syubhat dalam dada mereka tentang makna kafir dan kekafiranlah maka hati dan mata mereka tertutup, sehingga kafir dan kekafiran harus di sikapi dengan pertumpahan darah!
Kaum khowarij melebihkan ghiroh mereka di atas syariat, dada mereka hanya bergemuruh semangat membara tanpa ilmu dan pemahaman, sementara itu mereka juga menolak nasihat para ulama dan merendahkan mereka, persis seperti ucapan Usamah bin Laden terhadap Syaikh bin Baz.
Para penerus pemikiran khowarij di Indonesia pun tidak jauh berbeda. Setelah dengan pengecut menebar bom dengan dalih memberantas kekafiran dan salibis di bumi Indonesia, mereka pun lari ketakutan ketika aparat memburu, dan seperti pendahulunya, mereka menyusup di masyarakat ahlussunnah.
Masyarakat ahlussunnah adalah masyarakat dari kaum muslimin yang berusaha menegakkan sendi-sendi dan nilai-nilai Islam berdasar sumber hukum al qur’an, hadits, fatwa para shahabat nabi, mereka merujuk kepada para ulama, mereka juga taat kepada kepemerintahan islam di Indonesia, sebab salah satu i’tiqod ahlussunnah terhadap kebaradaan pemimpin adalah TAAT sekalipun pemimpin itu mendzalimi hingga merampas tanah dan nyawa mereka. Apalagi Indonesia bukan negara dengan pemimpin muslim yang dzalim, sehingga kewajiban taat terhadap umara’ menjadi mutlak.
Masyarakat ahlussunnah Indonesia sangat terbuka sebab mereka mengemban misi ukhuwah. Inilah celah bagi para penyusup dari kalangan khowarij untuk berusaha menebar syubhat-syubhat mereka sekaligus tempat berlindung mereka dari kejaran aparat, predator mereka.
Maka tidak heran jika beberapa kalangan menuduh masyarakat wahabi (julukan lain bagi Ahlussunnah, merujuk kepada Syaikh Abdul wahab, seorang tokoh pembaharu dari Arab Saudi, julukan ini diberikan karena sebagian besar Ahlussunnah menggunakan kitab karangan Syaikh Abdul Wahhab ini) memberi perlindungan dan memberi penghidupan serta menjadi humus bagi pergerakan teroris di Indonesia.
Sungguh tuduhan tersebut tidak masuk akal sama sekali. Inilah kerancuan! Kerancuan karena ahlussunnah atau wahabi atau salafy bukanlah khowarij, meski jika suatu saat nanti akan ada teroris mengatas-namakan Wahabi atau salafy!
Terorisme tidak ditolerir dalam pemahaman ahlussunnah! Membunuh orang kafir yang berada dalam perlindungan dan perjanjian damai pemerintahan Islam adalah haram! Apalagi mengarahkan serangan bom terhadap presiden! Hanya khowarij yang terbukti dalam sejarah yang membunuh pemimpin mereka sendiri, seperti yahudi yang membunuhi pemimpin-pemimpin mereka meski para pemimpin mereka adalah nabi mereka.
Nisbat dan penyebutan Wahabi terhadap masyaraat ahlussunnah Indonesia jika ditelusuri hanya akan mendapati penyandaran pemikiran dan ideologi terhadap kitab-kitab yang ditulis oleh syaik Abdul WAha (rahimahullah) bukan terhadap sejarah politik di balik keluarga kerajaan As Sa’ud. Sejarah selalu tercoreng dengan penambahan dan pembelokan, namun buku atau kitab-kitab yang ditulis oleh syaikh Abdul Wahab jauh dari cerita sejarah dan politik.
Sangat aneh jika pemahaman wahabi dituduh sebagai pemahaman yang memberikan humus terhadap gerakan terorisme, padahal sangat mafhum bahwa Arab Saudi telah meng-counter pemikiran tersebut dan mengusir Usamah bin Laden dari bumi Haromain.
Inilah saatnya bagi para da’i untuk menjelaskan apa itu KHAWARIJ, sejarah dan perkembangannya terutama di masa kini, neo-khowarij! Banyak masyarakat bahkan tokoh masyarakat yang belum mengetahui akan hal ini.
Pemikiran khawarij bisa berada di organisasi manapun, pemikiran khowarij tidak bisa diidentikan dengan penampilan mereka, bisa saja mirip orang kebanyakan, bisa saja berada di tengah golongan ormas atau partai.
Jakarta, (tvOne). Aktivis Islam Umar Abduh meminta Kepolisian Republik Indonesia (Polri) transparan dalam memberikan informasi terkait pengepungan rumah di Temanggung, Jawa Tengah yang diduga menewaskan Noordin M. Top. Umar menilai informasi yang didapat selama drama pengepungan rumah di Tumenggung tidak masuk akal.
Hal ini diungkapkan Umar dalam sebuah diskusi di Doekoen Coffee, Jakarta, 10 Agustus 2009. “Semua orang tertawa saat mendengar informasi Noordin menyebut namanya saat ditanya, ‘Siapa di dalam?’ Bahkan Hendropriyono (mantan kepala Badan Intelejen Negara) juga akhirnya tidak percaya setelah dengar itu,” kata Umar.
Polri pun hingga saat ini dinilai Umar belum memberikan fakta yuridis yang memuaskan. Seharusnya, kata Umar, Polri memperlihatkan denah rumah yang memperlihatkan di mana jenazah ditemukan. Selain itu, keadaan rumah setelah penggeledahan pun harus diperlihatkan secara transparan.
“Katanya ada tembakan balasan, ada bom di dalam rumah. Seharusnya Polri membuka fakta yuridis seperti itu kepada wartawan,” tutur Umar yang merupakan mantan tahanan politik era Orde Baru yang dituduh ingin mendirikan negara Islam.
Selama ini, keterangan yang didapat masyarakat pun hanya dari Polri. Umar meminta ada pendapat kedua (second opinion) yang dapat memberikan informasi terkait jenazah dari pengepungan rumah di Tumenggung. “Seharusnya keluarga meminta otopsi lagi. Tapi apa bisa diotopsi selain oleh Polri?” katanya.
Sedangkan aktifis Islam Eggy Sudjana menyesalkan opini yang selalu menyudutkan kelompok Islam. Polri diminta tidak memberikan informasi yang kemudian membentuk opini yang menyesatkan tentang Islam. “Islam tidak pernah mengajarkan terorisme. Islam itu rahmatan lil ‘alamiin (rahmat semesta alam),” kata Eggy.(VIVAnews)
Dalam Kajian ini dijelaskan tentang Hukum bom bunuh diri dan sikap Ahlus Sunnah terhadap pemerintah Muslim. Ceramah ini disampaikan dalam menanggapi bom bunuh diri di Hotel JW Marriot dan Ritz akhir-akhir ini. Di sampaikan oleh Ust. Badrussalam, Lc. Selamat menyimak dan semoga bermanfaat.
Faidah yang dapat diambil dari ceramah:
- Islam adalah agama yang datang untuk memperbaiki, bukan merusak.
- Barangsiapa yang membunuh seorang muslim dengan sengaja maka dia masuk neraka jahannam, Allah murka kepadanya, dan Allah akan melaknatnya.
- Tidak boleh membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah tanpa hak yang benar
- Tidak halal darah seorang muslim kecuali karena tiga perkara: orang yang membunuh, orang yang berzina tetapi telah menikah, dan orang yang murtad. Ini dengan catatan bahwa yang menghukumnya adalah pihak yang berwajib.
- Membunuh orang kafir yang berada dalam perlindungan/ perjanjian orang-orang Islam adalah haram bahkan dalam sebuah hadits dikatakan bahwa dia tidak akan mencium bau surga.
- Islam melarang seorang muslim bunuh diri.
- Orang yang mati karena bunuh diri kelak akan disiksa dengan cara yang sama bagaimana dia bunuh diri.
- Tidak ada maslahatnya melakukan bom bunuh diri seperti yang terjadi akhir-akhir ini, justru yang ada malah kaum muslimin manjadi alergi dengan sunnah, orang yang berjenggot –karena sunnah- dianggap teroris, dan sebagainya.
- Diantara keyakinan Ahlussunnah adalah wajib taat kepada pemimpin kaum muslimin selama mereka tidak memerinthakan untuk berbuat kemaksiatan, meskipun mereka adalah pemerintah yang dzalim. Bukan justru gampang-gampangnya mengkafirkan pemerintah sehingga menyebabkan munculnya bom-bom disana-sini yang sebenarnya akarnya adalah karena menanggap pemerintah telah kafir.
- Keyakinan Ahlussunnah, bahwa berhukum dengan selain hukum Allah adalah dosa besar, tetapi tidak secara otomatis kafir.
- Penafsiran Ibnu Abbas atas ayat Allah, ”Dan siapa yang berhukum dengan hukum selain Allah adalah kafir”, yang dimaksud adalah ”kufrun duuna kufrin”, artinya kufur yang tidak mengkafirkan. Atsar ini shahih.
- Sebagai penguat lagi adalah Raja Najasyi, seorang raja yang menyembunyikan ke-Islamannya, yang tentu saja dalam pemerintahnya tidak berhukum dengan hukum Allah, tetapi Nabi justru melaksanakan sholat ghoib ketika Raja Najasyi meninggal, yang hal ini menandakan bahwa Raja Najasyi adalah muslim yang tidak kafir karena tidak berhukum dengan hukum Allah dalam pemerintahnya. Seandainya Raja Najasyi kafir karena tidak berhukum dengan hukum Allah dalam pemerintahnya, tentu Nabi dan sahabat tidak akan mensholatinya
- Masalah mengkafirkan seorang muslim adalah perkara yang sangat berat, justru dalam sebuah hadits dikatakan bahwa jika seseorang menuduh orang kafir, maka bisa kembali tuduhan tersebut kepada si penuduh jika tuduhan tersebut tidak benar
- Ahlusunnah bersepakat dalam masalah mengkafirkan seseorang harus terpenuhi padanya (yang melakukan perbuatan kufur) empat syarat: (1). Orang yang melakukannya telah baligh dan berakal. (2). Orang tersebut melakukannya dengan kerelaan, tanpa adanya paksaan. Dengan dalil kisahnya Ammar bin Yasir. (3). Sudah tegak padanya hujjah/ dalil, dia sudah paham hujjah yang disampaikan dan tidak ada syubhat. (4). Dia melakukan kekufuran tersebut tidak karena muta-awwil / adanya syubhat sehingga menganggapnya sebagai suatu hal yang diperbolehkan. Dengan dalil kisah Muadz bin Jabbal radliyallahu’anhu yang sujud kepada Nabi shallallahu’alaihi wa sallam.
- Syaikhul Islam mengatakan: ”Tidaklah kaum muslimin memberontak kepada pemimpin yang sah, kecuali Allah akan berikan kepada mereka berbagai macam kehinaan.”
- Terjadinya pemimpin-pemimpin yang dzalim itu semua adalah kesalahan rakyatnya. Allah tidak akan memberikan suatu pemimpin suatu kaum melainkan sesuai dengan keadaan rakyatnya. (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah)
- Pemimpin adalah cermin bagi rakyatnya (Ibnu Qayyim)
- Terlarangnya mencela pemerintah dihadapan khalayak ramai.
- Menasehati pemerintah adalah dengan cara yang baik, dan dengan menyendiri dengan mereka. Nabi bersabda, ”Barangsiapa yang ingin menasehati penguasa, janganlah ia menampakkan dengan terang-terangan. Hendaklah ia pegang tangannya lalu menyendiri dengannya. Jika penguasa itu mau mendengar nasihat itu, maka itu yang terbaik dan bila si penguasa itu enggan (tidak menerima), maka sungguh ia telah melaksanakan kewajiban amanah yang dibebankan kepadanya.” (HR. Ibnu Abi Ashim dalam as-Sunnah).
source: http://maramis setiawan.wordpress.com
sumber link ceramah: http://radiorodja.com
Abu Bakar Ba`asyir: “Tidak menutup kemungkinan setelah peristiwa ini, aktivis-aktivis Islam akan ditangkap dan dituduh sebagai pelaku bom”

Pelaku peledakan Hotel JW Marriott dan Ritz Carlton pada Jumat (17/7) adalah musuh Islam, demikian mantan pemimpin Majelis Mujahidin Indonesia, Abu Bakar Ba`asyir mengatakan, seperti ditulis kantor berita Indonesia, Antara, di situsnya.
“Tidak menutup kemungkinan setelah adanya kasus peledakan ini, pejuang-pejuang Islam akan ditangkap dan dituduh sebagi pelaku pengeboman,” katanya usai memimpin unjuk rasa menentang kekerasan di Xinjiang.
Mengenai siapa musuh Islam yang dia maksud, lanjutnya, tidak menutup kemungkinan Amerika Serikat juga ikut terlibat di dalamnya.
“Tetapi tidak menutup kemungkinan juga, pengeboman tersebut juga dilakukan oleh oknum umat Islam yang berasal dari kelompok tertentu yang tidak puas dengan keadaan Indonesia saat ini,” katanya.
Jika hal tersebut terbukti dilakukan oknum umat Islam, lanjutnya, maka hal tersebut adalah kemauan pelaku pengeboman sendiri, bukan kemauan umat Islam.
“Saya menentang keras tuduhan mengenai pengeboman ini ditujukan kepada umat Islam,” katanya.
Dia menghimbau kepada semua pihak, termasuk Pemerintah Indonesia, agar berhati-hati dalam menyikapi kasus pengeboman ini.
source: http:// antara.co.id/view/?i=1247823969& c=NAS&s=POL, gambar vivanews.com
“Bagaimanapun serangan ini memperjelas masih adanya eksistensi ekstrimis yang berpeluang membunuhi mereka yang tidak berdosa, perempuan, anak-anak tanpa mengenal golongan di seantero negeri” Ucap obama seperti di kutip Newyork Times, demikian the jakartapost menulis.

Sebelumnya Obama menyatakan kedukaannya yang mendalam terkait serangan bom di dua hotel di Jakarta pada Jum’at 17 juli 2009 yang menewaskan sekurangnya 9 orang dan melukai 50 lainnya.
Sambil berharap pemerintah Indonesia berkonsisten dalam upaya memrangi terorisme, Obama yang menghabiskan sebagan masa kecilnya di Indonesia, mengatakan bahwa Amerika Serikat siap sedia membantu.
“Indonesia telah cukup tabah dalam memerangi ekstrimisme kekerasan, dan telah berhasil mengekang aktivitas teroris dalam wilayahnya” ucap Obama yang dirilis Gedung Putih.
source: http://www.the jakartapost.com/news/2009/07/17/obama-condemns-jakarta-bomb-attacks.html, gambar dari www.ny-times.com








Komentar Terakhir