You are currently browsing the tag archive for the 'agama' tag.

Khawarij mempunyai ciri-ciri dan sifat-sifat yang menonjol. Sebaik-baik orang yang meluruskan sifat-sifat ini adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan sifat-sifat kaum ini dalam hadits-haditsnya yang mulia.

Disini akan dipaparkan penjelasan sifat-sifat tersebut dengan sedikit keterangan, hal itu mengingat terdapat beberapa perkara penting, antara lain
dengan mengetahui sifat-sifat ini akan terbukalah bagi kita ciri-ciri ghuluw (berlebih-lebihan) dan pelampauan batas mereka, dan tampaklah di mata kita sebab-sebab serta alasan-alasan pendorong yang menimbulkan hal itu. Dalam hal yang demikian itu akan menampakkan faedah yang tak terkira.

Keberadaan mereka akan tetap ada hingga di akhir zaman, seperti dikabarkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam satu riwayat. Oleh karenanya mengetahui sifat-sifat mereka adalah merupakan suatu perkara yang penting.
Dengan mengetahui sifat mereka dan mengenali keadaannya akan menjaga diri dari terjatuh ke dalamnya. Mengingat barangsiapa yang tidak mengetahui keburukan mereka, akan terperangkap di dalamnya. Dengan mengetahui sifat mereka, akan menjadikan kita waspada terhadap orang-orang yang mempunyai sifat-sifat tersebut, sehingga kita dapat mengobati orang yang tertimpa dengannya.

Berkenan dengan hal ini akan kami paparkan sifat-sifat tersebut berdasarkan hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia.

SUKA MENCELA DAN MENGANGGAP SESAT
Sifat yang paling nampak dari Khawarij adalah suka mencela terhadap para Aimatul Huda (para Imam), menganggap mereka sesat, dan menghukum atas mereka sebagai orang-orang yang sudah keluar dari keadilan dan kebenaran. Sifat ini jelas tercermin dalam pendirian Dzul Khuwaishirah terhadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan perkataanya : “Wahai Rasulullah berlaku adillah”. [Hadits Riwayat Bukhari VI/617, No. 3610, VIII/97, No. 4351, Muslim II/743-744 No. 1064, Ahmad III/4, 5, 33, 224].

Dzul Khuwaishirah telah menganggap dirinya lebih wara’ daripada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menghukumi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai orang yang curang dan tidak adil dalam pembagian. Sifat yang demikian ini selalu menyertai sepanjang sejarah. Hal itu mempunyai efek yang sangat buruk dalam hukum dan amal sebagai konsekwensinya. Berkata Ibnu Taimiyah tentang Khawarij :”Inti kesesatan mereka adalah keyakinan mereka berkenan dengan Aimmatul Huda (para imam yang mendapat petunjuk) dan jama’ah muslimin, yaitu bahwa Aimmatul Huda dan jama’ah muslimin semuanya sesat. Pendapat ini kemudian di ambil oleh orang-orang yang keluar dari sunnah, seperti Rafidhah dan yang lainnya. Mereka mengkatagorikan apa yang mereka pandang kedzaliman ke dalam kekufuran”. [Al-Fatawa : XXVIII/497].

BERPRASANGKA BURUK [SU'UDZAN]
Ini adalah sifat Khawarij lainnya yang tampak dalam hukum syaikh mereka Dzul Khuwaishirah si pandir dengan tuduhannya bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak ikhlas dengan berkata : “Artinya : Demi Allah, sesungguhnya ini adalah suatu pembagian yang tidak adil dan tidak dikehendaki di dalamnya wajah Allah”. [Hadits Riwayat Muslim II/739, No. 1062, Ahmad IV/321].

Dzul Khuwaishirah ketika melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membagi harta kepada orang-orang kaya, bukan kepada orang-orang miskin, ia tidak menerimanya dengan prasangka yang baik atas pembagian tersebut.

Ini adalah sesuatu yang mengherankan. Kalaulah tidak ada alasan selain pelaku pembagian itu adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam cukuplah hal itu mendorong untuk berbaik sangka. Akan tetapi Dzul Kuwaishirah enggan untuk itu, dan berburuk sangka disebabkan jiwanya yang sakit. Lalu ia berusaha menutupi alasan ini dengan keadilan. Yang demikian ini mengundang tertawanya iblis dan terjebak dalam perangkapnya.

Seharusnya seseorang itu introspeksi, meneliti secara cermat dorongan tindak tanduk dan maksud tujuan serta waspada terhadap hawa nafsunya. Hendaklah berjaga-jaga terhadap manuver-manuver iblis, karena dia banyak menghias-hiasi perbuatan buruk dengan bungkus indah dan rapi, dan membaguskan tingkah laku yang keji dengan nama dasar-dasar kebenaran yang mengundang seseorang untuk menentukan sikap menjaga diri dan menyelamatkan diri dari tipu daya setan dan perangkap-perangkapnya.

Jika Dzul Khuwaishirah mempunyai sedikit saja ilmu atau sekelumit pemahaman, tentu tidak akan terjatuh dalam kubangan ini.

Berikut kami paparkan penjelasan dari para ulama mengenai keagungan pembagian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan hikmahnya yang tinggi dalam menyelesaikan perkara.

Berkata Syaikh Islam Ibnu Taimiyah :” Pada tahun peperangan Hunain, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam membagi ghanimah (rampasan perang) Hunain pada orang-orang yang hatinya lemah (muallafah qulubuhum) dari penduduk Najd dan bekas tawanan Quraisy seperti ‘Uyainah bin Hafsh, dan beliau tidak memberi kepada para Muhajirin dan Anshar sedikitpun.

Maksud Beliau memberikan kepada mereka adalah untuk mengikat hati mereka dengan Islam, karena keterkaitan hati mereka dengannya merupakan maslahat umum bagi kaum muslimin, sedangkan yang tidak beliau beri adalah karena mereka lebih baik di mata Beliau dan mereka adalah wali-wali Allah yang bertaqwa dan seutama-utamanya hamba Allah yang shalih setelah para Nabi dan Rasul-rasul.

Jika pemberian itu tidak dipertimbangkan untuk maslahat umum, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak akan memberi pada aghniya’, para pemimpin yang dita’ati dalam perundangan dan akan memberikannya kepada Muhajirin dan Anshar yang lebih membutuhkan dan lebih utama.

Oleh sebab inilah orang-orang Khawarij mencela Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dikatakan kepada beliau oleh pelopornya :” Wahai Muhammad, berbuat adillah. Sesungguhnya engkau tidak berlaku adil “. dan perkataannya :” Sesungguhnya pembagian ini tidak dimaksudkan untuk wajah Allah …..”. Mereka, meskipun banyak shaum (berpuasa), shalat, dan bacaan Al-Qur’annya, tetapi keluar dari As-Sunnah dan Al-Jama’ah.

Memang mereka dikenal sebagai kaum yang suka beribadah, wara’ dan zuhud, akan tetapi tanpa disertai ilmu, sehingga mereka memutuskan bahwa pemberian itu semestinya tidak diberikan kecuali kepada orang-orang yang berhajat, bukan kepada para pemimpin yang dita’ati dan orang-orang kaya itu, jika di dorong untuk mencari keridhaan selain Allah -menurut persangkaan mereka-.

Inilah kebodohan mereka, karena sesungguhnya pemberian itu menurut kadar maslahah agama Allah. Jika pemberian itu akan semakin mengundang keta’atan kepada Allah dan semakin bermanfaat bagi agama-Nya, maka pemberian itu jauh lebih utama. Pemberian kepada orang-orang yang membutuhkan untuk menegakkan agama, menghinakan musuh-musuhnya, memenangkan dan meninggikannya lebih agung daripada pemberian yang tidak demikian itu, walaupun yang kedua lebih membutuhkan”. [Lihat Majmu' Fatawa : XXVIII/579-581, dengan sedikit diringkas].

Untuk itu hendaklah seseorang menggunakan bashirah, lebih memahami fiqh dakwah dan maksud-maksud syar’i, sehingga tidak akan berada dalam kerancuan dan kebingungan yang mengakibatkan akan terhempas, hilang dan berburuk sangka serta mudah mencela disertai dengan menegakkan kewajiban-kewajiban yang terpuji dan mulia.

BERLEBIHAN DALAM BERIBADAH
Sifat ini telah ditunjukkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya : “Artinya : Akan muncul suatu kaum dari umatku yang membaca Al-Qur’an, yang mana bacaan kalian tidaklah sebanding bacaan mereka sedikitpun, tidak pula shalat kalian sebanding dengan shalat mereka sedikitpun, dan tidak pula puasa kalian sebanding dengan puasa mereka sedikitpun”. [Muslim II/743-744 No. 1064].

Berlebihan dalam ibadah berupa puasa, shalat, dzikir, dan tilawah Al-Qur’an merupakan perkara yang masyhur di kalangan orang-orang Khawarij. Dalam Fathu Al-Bari, XII/283 disebutkan :”Mereka (Khawarij) dikenal sebagai qura’ (ahli membaca Al-Qur’an), karena besarnya kesungguhan mereka dalam tilawah dan ibadah, akan tetapi mereka suka menta’wil Al-Qur’an dengan ta’wil yang menyimpang dari maksud yang sebenarnya. Mereka lebih mengutamakan pendapatnya, berlebih-lebihan dalam zuhud dan khusyu’ dan lain sebagainya”.

Ibnu Abbas juga telah mengisyaratkan pelampauan batas mereka ini ketika pergi untuk mendebat pendapat mereka. Beliau berkata :”Aku belum pernah menemui suatu kaum yang bersungguh-sungguh, dahi mereka luka karena seringnya sujud, tangan mereka seperti lutut unta, dan mereka mempunyai gamis yang murah, tersingsing, dan berminyak. Wajah mereka menunjukan kurang tidur karena banyak berjaga di malam hari”. [Lihat Tablis Iblis, halaman 91]. Pernyataan ini menunjukkan akan ketamakan mereka dalam berdzikir dengan usaha yang keras.

Berkata Ibnul Jauzi :”Ketika Ali Radhiyallahu ‘Anhu meninggal, dikeluarkanlah Ibnu Maljam untuk dibunuh. Abdullah bin Ja’far memotong kedua tangan dan kedua kakinya, tetapi ia tidak mengeluh dan tidak berbicara. Lalu dicelak kedua matanya dengan paku panas, ia pun tidak mengeluh bahkan ia membaca : “Artinya : Bacalah dengan (menyebut) nama Rabb-mu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah”. [Al-'Alaq : 1-2].

Hingga selesai, walaupun kedua matanya meluluhkan air mata. Kemudian setelah matanya diobati, ia akan di potong lidahnya, baru dia mengeluh. Ketika ditanyakan kepadanya :”Mengapa engkau mengeluh ?. “Ia menjawab ;”Aku tidak suka bila di dunia menjadi mayat dalam keadaan tidak berdzikir kepada Allah”. Dia adalah seorang yang ke hitam-hitaman dahinya bekas dari sujud, semoga laknat Allah padanya”. [Tablis Iblis, hal. 94-95].

Mekipun kaum Khawarij rajin dalam beribadah, tetapi ibadah ini tidak bermanfa’at bagi mereka, dan mereka pun tidak dapat mengambil manfaat darinya. Mereka seolah-olah bagaikan jasad tanpa ruh, pohon tanpa buah, mengingat ahlaq mereka yang tidak terdidik dengan ibadahnya dan jiwa mereka tidak bersih karenanya serta hatinya tidak melembut. Padahal disyari’atkan ibadah adalah untuk itu. Berfirman yang Maha Tinggi :

“Artinya : ….Dan tegakkanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar ……”. [Al-Ankabut : 45]

“Artinya : ….Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa”. [Al-Baqarah : 183]

Tidaklah orang-orang bodoh tersebut mendapatkan bagian dari qiyamu al-lail-nya kecuali hanya jaga saja, tidak dari puasanya kecuali lapar saja, dan tidak pula dari tilawah-nya kecuali parau suaranya.

Keadaan Khawarij ini membimbing kita pada suatu manfaat seperti yang dikatakan Ibnu Hajar tentangnya :”Tidak cukuplah dalam ta’dil (menganggap adil) dari keadaan lahiriahnya, walau sampai yang dipersaksikan akan keadilannya itu pada puncak ibadah, miskin, wara’, hingga diketahui keadaan batinnya”. [Lihat Fathu Al-Bari XII/302].

[Dinukil dari kitab Zhahirah al-Ghuluw fi ad-Dien fi al-'Ashri al-Hadits, hal. 99-104, Muhammad Abdul Hakim Hamid, cet I, th 1991, Daarul Manar al-Haditsah, Majalah As-Sunnah Edisi 14/Th. ke 2, hal 20-34, penerjemah Aboe Hawari] Muhammad Abdul Hakim Hamid. www.almanhaj.or.id

Setidaknya demikian saya melihat. Kaum khowarij memiliki ciri sudut pandang terhadap orang kafir dan kekafiran sangat dominan. Takfir atau menuduhkan kekafiran kepada orang lain yang menurut mereka melakukan kesalahan tertentu terhadap Islam adalah ciri utama kaum khowarij. Termasuk dalam hal tersebut adalah menuduhkan kesesatan, kebid’ahan dan sebagainya; demikian setidaknya ciri dominan kaum khowarij.

Menilik sejarah, kaum khowarij adalah pelaku pembunuhan terhadap kholifah Utsman bin Affan (RA) karena ketidak cocokan perilaku kepemimpinan sang kholifah di mata mereka, maka darah adalah jawabannya.

Lalu munculah kepengecutan mereka ketika keluarga kholifah, Muawiyyah (RA), menuntut kematian sang kholifah. Para pengecut khowarij ini lari lintang pukang bersembunyi di pasukan Ali (RA). Lalu terjadilah fitnah itu. Pertumpahan darah antar kaum muslimin.

Karena syubhat dalam dada mereka tentang makna kafir dan kekafiranlah maka hati dan mata mereka tertutup, sehingga kafir dan kekafiran harus di sikapi dengan pertumpahan darah!

Kaum khowarij melebihkan ghiroh mereka di atas syariat, dada mereka hanya bergemuruh semangat membara tanpa ilmu dan pemahaman, sementara itu mereka juga menolak nasihat para ulama dan merendahkan mereka, persis seperti ucapan Usamah bin Laden terhadap Syaikh bin Baz.

Para penerus pemikiran khowarij di Indonesia pun tidak jauh berbeda. Setelah dengan pengecut menebar bom dengan dalih memberantas kekafiran dan salibis di bumi Indonesia, mereka pun lari ketakutan ketika aparat memburu, dan seperti pendahulunya, mereka menyusup di masyarakat ahlussunnah.

Masyarakat ahlussunnah adalah masyarakat dari kaum muslimin yang berusaha menegakkan sendi-sendi dan nilai-nilai Islam berdasar sumber hukum al qur’an, hadits, fatwa para shahabat nabi, mereka merujuk kepada para ulama, mereka juga taat kepada kepemerintahan islam di Indonesia, sebab salah satu i’tiqod ahlussunnah terhadap kebaradaan pemimpin adalah TAAT sekalipun pemimpin itu mendzalimi hingga merampas tanah dan nyawa mereka. Apalagi Indonesia bukan negara dengan pemimpin muslim yang dzalim, sehingga kewajiban taat terhadap umara’ menjadi mutlak.

Masyarakat ahlussunnah Indonesia sangat terbuka sebab mereka mengemban misi ukhuwah. Inilah celah bagi para penyusup dari kalangan khowarij untuk berusaha menebar syubhat-syubhat mereka sekaligus tempat berlindung mereka dari kejaran aparat, predator mereka.

Maka tidak heran jika beberapa kalangan menuduh masyarakat wahabi (julukan lain bagi Ahlussunnah, merujuk kepada Syaikh Abdul wahab, seorang tokoh pembaharu dari Arab Saudi, julukan ini diberikan karena sebagian besar Ahlussunnah menggunakan kitab karangan Syaikh Abdul Wahhab ini) memberi perlindungan dan memberi penghidupan serta menjadi humus bagi pergerakan teroris di Indonesia.

Sungguh tuduhan tersebut tidak masuk akal sama sekali. Inilah kerancuan! Kerancuan karena ahlussunnah atau wahabi atau salafy bukanlah khowarij, meski jika suatu saat nanti akan ada teroris mengatas-namakan Wahabi atau salafy!

Terorisme tidak ditolerir dalam pemahaman ahlussunnah! Membunuh orang kafir yang berada dalam perlindungan dan perjanjian damai  pemerintahan Islam adalah haram! Apalagi mengarahkan serangan bom terhadap presiden! Hanya khowarij yang terbukti dalam sejarah yang membunuh pemimpin mereka sendiri, seperti yahudi yang membunuhi pemimpin-pemimpin mereka meski para pemimpin mereka adalah nabi mereka.

Nisbat dan penyebutan Wahabi terhadap masyaraat ahlussunnah Indonesia jika ditelusuri hanya akan mendapati penyandaran pemikiran dan ideologi terhadap kitab-kitab yang ditulis oleh syaik Abdul WAha (rahimahullah) bukan terhadap sejarah politik di balik keluarga kerajaan As Sa’ud. Sejarah selalu tercoreng dengan penambahan dan pembelokan, namun buku atau  kitab-kitab yang ditulis oleh syaikh Abdul Wahab jauh dari cerita sejarah dan politik.

Sangat aneh jika pemahaman wahabi dituduh sebagai pemahaman yang memberikan humus terhadap gerakan terorisme, padahal sangat mafhum bahwa Arab Saudi telah meng-counter pemikiran tersebut dan mengusir Usamah bin Laden dari bumi Haromain.

Inilah saatnya bagi para da’i untuk menjelaskan apa itu KHAWARIJ, sejarah dan perkembangannya terutama di masa kini, neo-khowarij! Banyak masyarakat bahkan tokoh masyarakat yang belum mengetahui akan hal ini.

Pemikiran khawarij bisa berada di organisasi manapun, pemikiran khowarij tidak bisa diidentikan dengan penampilan mereka, bisa saja mirip orang kebanyakan, bisa saja berada di tengah golongan ormas atau partai.

Blog yang lucu. Seluruh pernyataan di blog “http://bushro2.blogspot.com/” lucu adanya. Saya setuju dengan posting ndorokakung. Ha-ha-he-he saja saya baca pernyataan demikian. Lucu!

Al-Walaa-u’ wal baroo-u’. Wala artinya loyal atau loyalitas sementara baro’ adalah lawan katanya, anti-loyalitas atau pengingkaran.

Kenapa musti menggunakan layanan blog milik google untuk menyampaikan pernyataan “keterangan resmi tandzim al qoidah.. bla..bla..”, bukannya blogspot juga milik orang kafir? Kalo mau ‘wala-wala’-an ya sekalian saja, jangan pake internet, wong server-server yang ada di dunia kebanyakan punya orang kafir, ya toh?

Apakah menggunakan layanan dari blogspot milik google, yang jelas-jelas perusahaan bukan milik bin Laden group atau milik seorang muslim manapun, masih bukan termasuk bagian dari anti-loyalitas terhadap kaum kafir?

Halo, seseorang yang mbikin blog “http://bushro2.blogspot.com/”… masih ada akal sehat gak?

Sungguh keliru jika al Walaa’ wal Baroo dipahami dan diterjemahkan dengan cara-cara demikian. Fitnah apalagi yang akan kaum muslimin alami dengan cara-cara ‘wala dan baro’ kalian ini? Begitukan cara menunjukkan loyalitas kepada kaum muslimin dan mempertontonkan sikap pengingkaran terhadap non-muslim?

blog bushro

Wala adalah loyalitas terhadap kaum muslimin dengan mencintai mereka, membela mereka di saat diperlukan, termasuk menjaga kehormatan mereka dari apapun termasuk fitnah!  Al Baro adalah pengingkaran kepada setiap kekafiran, baik perilaku maupun pelaku, namun, selalu ada situasi dan kondisi yang diatur syariat Islam yang mulia untuk melakukan sebuah sikap atau perbuatan, apalagi mengejawantahkan al walaa’u wal baro secara praktikal!

Terror dengan membunuh non-muslim yang dilindungi atau ada perjanjian dengan pemerintah muslim, bukanlah bentuk sikap al wala wal baro’..

Wallaahu a’lam..

Rosulullooh Shalallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Allaah tidak akan mencabut ilmu begitu saja dari dada para hambanya, tapi Dia mengambil ilmu itu dari wafatnya para ahli ilmu (ulama)[HR Bukhary]

Mungkin dari anda tidak mengetahui; Shaykh ‘Abdullaah ibn Jibreen (rahimahullah), yang merupakan salah satu dai ulama terkemuka di era kita dan salah satu anggota dari al-Lajnah ad-Daa’imah (dewan fatwa)- Saudi, meninggal dunia hari ini sekitar pukul 14 diRiyadh,  Saudi Arabia.

Semoga Allah mengangkat derajatnya dan menjaminkannya Surga Firdaus, Amiin!

———————————————————————–

Berikut adalah pemberitahuan resmi di website Syaikh Ibnu Jibrin (terjemahan mentah):

بسم الله الرحمن الرحيم
bismillahirrohmaanirrohiim
“ولنبلونكم بشيء من الخوف والجوع ونقص من الأموال والأنفس والثمرات وبشر الصابرين * الذين إذا أصابتهم مصيبة قالوا إنا لله وإنا إليه راجعون * أولئك عليهم صلوات من ربهم ورحمة وأولئك هم المهتدون”
Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun / Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk..” [al-Baqarah: 155-157]
انتقل إلى رحمة الله تعالى شيخنا وإمامنا ووالدنا الشيخ عبدالله بن عبدالرحمن ابن جبرين في الساعة الثانية من بعد ظهر اليوم الاثنين 20/7/1430هـ وسيصلى عليه ظهر غد الثلاثاء 21/7/1430هـ في جامع الإمام تركي بن عبدالله (الجامع الكبير) بالرياض وسيدفن في مقبرة العود .
Syaikh kami, sekaligus Imaam dan Ayah; Asy Syaikh ‘Abdullah ibn ‘Abdur-Rahmaan ibn Jibreen telah berpulang ke rahmatullaah, pada pukul 2 siang, setelah Dzuhur pada Senin  20/7/1430H (bertepatan dengan 13/7/2009). Dan kami akan mensholati beliau pada Dzuhur esok  21/7/1430H ( 14 Juli 2009) di Jaami’ al-Imaam Turkee bin ‘Abdillaah (al-Jaami’ al-Kabeer) di Riyadh, dan beliau akan dimakamkan di pemakaman Al ‘Aud.
نسأل الله أن يتغمده برحمته وأن يجزيه عن المسلمين خير الجزاء وأن يجعله مع السفرة الكرام البررة في الفردوس الأعلى من الجنة إنه ولي ذلك والقادر عليه.
وإنا لله وإنا إليه راجعون
مكتب الشيخ عبدالله الجبرين
الاثنين 20/7/1430هـ

Kami memohon kepada Allah untuk merahmati ruh beliau, sebagai beliau memberikan banyak kebaikan kepada kaum muslimin dan semoga Allah menyandingkan beliau bersama dengan kemuliaan dan para malaikat di syugra tertinggi, Al Firdaus.
“Sesungguhnya kit asemua milik Allah, dan sungguh kita akan kembali pada-Nya”
Kantor Shaykh ‘Abdullah Ibn Jibreen. Senin 20/7/1430H

Syaikh Abdullah bin Jibrin

source:

  1. http://www.islamic board.com/general/134284732-sh-abdullaah-ibn-jibreen-rh-has-passes-away.html
  2. http://www.islam today.net/albasheer/artshow-12-116091.htm


Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun / Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.

Sengara itu wajib. Anda orang kaya? Suatu saat jatuh miskin? Kebanyakan dari anda tidak siap. Percaya saja. Menjadi miskin harta setelah semasa hidup penuh harta,  suatu hal yang sangat menyengsarakan, berbeda dengan menjadi miskin kembali.

Mereka yang berbahagia dan bergelimang harta berawal dari jerih payah serta  merangkak dari kemiskinan mungkin tidak sulit beradaptasi dengan kemiskinan  kembali.

Menjadi kaya mendadak! Mendapat kebahagiaan tentu lebih mudah mengadapdatasinya, siapapun anda, tidak butuh waktu lama untuk lepas dari kikuk menjadi OKB, atau ada yang menjadi kaya kembali, akan lebih mudah.

ok, harta memang salah satu bentuk kebahagiaan meski dengan banyak resiko. Tapi siapa anda, apapun faktor kebahagiaan anda, suatu saat kesengsaraan bisa menyambangi.

Dalam Islam,cobaan hidup menjadi sebuah ujian wajib dari Tuhan, ALlah SWT. cobaan bisa berupa rasa takut; takut itu manusiawi tetapi ada kalanya rasa takut datang berlebihan. Dalam konteks negara, ketidak stabilan politik bisa memicu segala macam rasa takut kepada semua warga negara. Kelaparan merupakan ancaman utama negara-negara berkembang yang terhimpit krisis ekonomi, pendapatan yang kian menyusut, lapangan dan kesempatan kerja yang langka, maka rasa lapar akan memicu tingkat kriminalitas meninggi. Selain kemiskinan sebagai sebuah bentuk ujian menakutkan, kematian tentu ujian berat bagi mereka yang siap dan faham ataupun yang sedemikian mencintai hidup fana ini. Mati raga ini, matinya orang yg kita cintai, angka kematian yang tinggi dalam sebuah negeri, mati kesempatan, matinya popularitas hingga matinya inspirasi. Kekurangan gizi dan vitamin juga ancaman utama, rendahnya tingkat pendidikan sebagian besar rakyat indonesia akan menyebabkan pemahaman mereka akan gizi sangat buruk! Wajar jika pepatah ayam mati kelaparan dalam lumbung atau bebek mati kehausan ketika berenang menjadi sesuai. Istilah zamrud katulistiwa bagi Indonesia tidak berarti apa-apa jika para penghuninya terkungkung keterbelakangan intelektualitas alias kebodohan.

Sabar dan tawakkal bukanlah pasrah menyerah! Kesabaran adalah keuletan, tawakkal adalah kebijakan. Rasa takut bukan untuk dijauhi, rasa takut adalah pemicu untuk berani, berani berbuat, berusaha dan berkorban. Ancaman kelaparan adalah peluang bagi mereka yang berlebih harta untuk berbagi dalam wadah zakat, infak dan sodaqoh, wadah pahala bagi mereka yang bersabar dalam lapar, bersabar untuk tidak  berbuat dzolim. Kematian itu kepastian, hanya kondisinya saja yang harus dipersiapkan. Mau mati sebagai penghianat atau pahlawan, khusnul khotimah atau su’ul khotimah.

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar” (Al Baqarah : 155) Allahu A’lam

Bencong berbeda dengan banci. Mungkin lebih kepada konotasi. Bencong lebih kepada makna fisik laki-laki yang karena suatu sebab menjadi feminin, sementara banci lebih kepada makna konotasi kepengecutan. Takut secara harfiah adalah bagian dari sifat perempuan, sebab keberanian berkaitan dengan fisik dalam hal ini adalah kejantanan. Karenanya laki-laki yang lebih dominan pengecutnya akan dikatakan banci.

Pun seorang anak laki-laki yang didominasi oleh ibu atau saudarinya, maka jika salah asuh dalam keluarga, kemungkinan menjadi feminin lebih besar.

Percaya atau tidak, jika anda pria normal lalu banyak bergaul dengan bencong, anda akan mulai ketularan cara bicaranya. Lama kelamaan gestur atau bahasa tubuh anda akan ada perubahan, meluwes. Sedikit lama, anda akan memandang aneh kepada perempuan secara seksual dan ada sedikit ketertarikan pada hal-hal maskulin teman-teman anda. Lebih lama anda bergaul dengan bencong, maka anda akan berubah menjadi bencong beneran, meski pada awalnya anda akan berkecenderungan biseks, lalu akhirnya anda akan memandang Tuhan salah menempatkan jiwa anda.

Dalam Islam, haram hukumnya laki-laki meniru perempuan dalam segala hal yang berkaitan kekhususan feminitas, dan begitu pula sebaliknya wanita secara kodrat!

Menurut anda?

masbadar, inspired by friend’s life journal

Bismillah. Hadits atau As-sunnah adalah apa yang disandarkan kepada Muhammad SAW, apakah berupa ucapan (Qaul), perbuatan (fi’il), persetujuannya (taqrir) dan sebagainya dengan jalan periwayatan. Sesuatu yang disandarkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dianggap benar jika landasan yang digunakan tidak terdapat cacat atau celaan menurut kaidah-kaidah ilmu Hadits yang mu’tamad (yang kuat). Seperti tidak adanya para perawi pendusta, lemah, dan berbagai cacat lainnya dimana hal itu bisa dibuktikan dengan kaidah ilmu hadits tersebut. Dengan kata lain berbagai alasan yang disandarkan kepada Nabi Muhammad tetapi bisa dibuktikan bahwa sandaran tersebut mengandung cacat dan cela maka hal tersebut adalah bukan sunnah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sedangkan orang yang berbuat hal tersebut termasuk para pendusta atas nama beliau.

Berbagai alasan yang sering dijadikan sandaran mengenai keutamaan puasa Rajab adalah sebagai berikut:

  1. Alasan Pertama, konon Nabi SAW pernah bersabda: Rajab itu bulan Allah dan Sya’ban itu bulanku sedangkan Ramadhan itu bulan umatku. Maka barang siapa puasa Rajab dengan iman Dan ikhlash ia berhak mendapat keridhaan Allah yang amat besar dan Ia akan tempatkan dia di surga Firdaus yang paling tinggi. Dan siapa yang puasa Rajab dua hari maka ia akan dapat pahala dua kali dan tiap-tiap pahala beratnya seberat gunung didunia. Dan siapa yang puasa Rajab tiga hari maka Allah akan menjadikan antara dia dan neraka satu parit sepanjang perjalanannya satu tahun. Dan siapa yang puasa Rajab empat hari maka ia akan diselamatkan daripada kecelakaan, penyakit gila, kusta, supak, fitnah Masiihud Dajjal, dan siksa kubur. Dan siapa yang puasa Rajab enam hari maka ia akan keluar dari kuburnya sedang mukanya lebih bercahaya dari bulan purnama. Dan siapa yang puasa Rajab tujuh hari maka sesungguhnya bagi neraka jahannam itu ada tujuh pintu yang tertutup untuknya dengan puasa tiap-tiap hari satu pintu dari beberapa pintunya. Dan siapa yang puasa Rajab delapan hari maka sesungguhnya surga itu memiliki delapan pintu yang dibuka Allah untuknya dengan puasa pada tiap-tiap hari satu pintu dari beberapa pintunya. Dan siapa yang puasa Rajab sembilan hari maka ia akan keluar dari kuburnya sambil menyeru La ilaaha illallah  dan tidak akan dipalingkan mukanya dari surga. Dan siapa yang puasa Rajab sepuluh hari Allah mengadakan baginya pada tiap-tiap satu mil dari jembatan shirathal mustaqim permadani yang dibuat istirahat olehnya. Dan siapa yang puasa Rajab sebelas hari maka tidak ada orang yang lebih utama dari padanya dihari kiamat selain orang-orang yang puasa seperti dirinya atau melebihinya. Dan siapa yang puasa Rajab dua belas hari maka Allah akan pakaikan padanya dihari kiamat dua pakaian yang tiap-tiap pakaian lebih banyak dari dunia dan seisinya. Dan siapa yang puasa Rajab tiga belas hari maka ia mendapatkan hidangan dibawah Arsy lalu ia makan sedangkan orang-orang lain dalam kesusahan yang sangat. Dan siapa yang puasa Rajab empat belas hari maka Allah akan memberikan ganjaran yang belum pernah dilihat mata, didengar telinga dan ganjaran yang  belum pernah terlintas dihati manusia. Dan siapa yang puasa Rajab lima belas hari maka Allah akan menghubungkannya dengan orang-orang yang selamat Dan tak seorangpun malaikat atau nabi yang melewatinya kecuali berkata berbahagialah engkau, engkau termasuk golongan orang-orang yang selamat (HR. Ibnu’Adie). Ketahuilah, HADITS INI TERMASUK HADITS PALSU. Dalam rangkaian sanad hadits ini terdapat: -1. AlKasa’i yang menurut Imam Suyuthi seorang yang tidak terkenal dikalangan ahli Hadits. -2. Abu Bakar Muhammad bin Hasan an-Naqas yang dikenal oleh Imam Thalhah bin Muhammad Asy-syahid sebagai tukan dusta dalam urusan hadits, dan dikenal oleh Imam al-Barqani sebagai Munkarul Hadits (Pembawa hadits yang diingkari/ditolak riwayatnya), sedangkan Imam Suyuthi memasukkannya sebagai rawi (pembawa hadits) pemalsu hadits.
  2. Alasan kedua, Konon ada hadits; “Dari Ali bin Husain ia berkata: “Saya telah mendengar bapakku mengatakan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Bersabda: “Barangsiapa shalat satu malam pada bulan Rajab dan puasa disiangnya maka Allah akan memberi makanan kepadanya dari buah-buahan surga dan akan memakaikannya dengan pakaian surga dan akan diberi minuman dari minuman surga kecuali bagi yang berbuat tiga perkara: yaitu membunuh orang atau mendengar orang yang minta tolong pada waktu malam atau siang tetapi ia tidak menolongnya atau saudaranya mengadu kepadanya tetapi ia tidak mau melepaskan kesusahannya (H.R. Ishaaq bin Ibraahiim al- Khatalie). Ketahuilah, HADITS INI TERMASUK HADITS PALSU. Dalam hadits ini terdapat dua orang yang menjadi pembicaraan sebagai berikut: Husain bin Mukhariq dikenal oleh Imam Daraquthnie sebagai pemalsu hadits begitu pula Ishaq bin Muhammad bin Marwan yang menurut Imam Daraquthnie pula tidak boleh menjadikan hadits yang diriwayatkannya sebagai alasan untuk beramal.
  3. Alasan ketiga, Ada hadits, konon Nabi SAW pernah bersabda: Barang siapa yang puasa Rajab tiga hari maka Allah mencatatnya seperti puasa satu bulan. Barang siapa yang puasa Rajab tujuh hari maka Allah akan menutup tujuh pintu neraka baginya. Barang siapa yang puasa Rajab delapan hari maka Allah akan membukakan untuknya delapan pintu surga. Barang siapa yang berpuasa setengah bulan Rajab maka Allah menetapkan baginya keridhalan-Nya dan siapa yang diridhai-Nya maka Allah tidak akan menyiksanya. Barang siapa berpuasa Rajab sebulan maka Allah akan menghisabnya dengan hisab yang mudah. (HR. Ibnu Adie) Ketahuilah, HADITS INI PALSU. Dalam hadits ini terdapat rawi-rawi sebagai berikut: -1. Aban yang menurut Imam Suyuthi riwayatnya tidak diterima oleh Ahli Hadits 2. mar bin Azhar  yang dikenal oleh  Imam Ibnu Ma’in sebagai orang yang tidak boleh dipercaya, Imam Bukhari mengatakannya sebagai orang yang dituduh tukang dusta, Imam Nasaa-I dan lainnya mengatakan bahwa ia tidak diterima periwayatannya. Adapun Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan bahwa Umar bin Azhar merupakan salah satu pemalsu hadits. Selain Ibnu Adie, hadits semakna diriwayatkan pula oleh Imam Abu Syaikh di bab Atstsawab, tetapi dalam sanadnya terdapat cacat yaitu: adanya  rawi yang bernama Husain bin Alwan yang menurut Imam Yahya bin Ma’in sebagai seorang tukang dusta. Imam Alie mengatakan dia itu lemah sekali. Imam Abu Hatim, Nasaa-i dan Daraquthnie mengatakan bahwa riwayatnya tidak diterima oleh Ahli Hadits. Sedangkan Imam Ibnu Hiban menyebutnya sebagai tukang memalsu hadits.
  4. Alasan keempat, Ada hadits, konon Nabi SAW pernah bersabda: Dari Ali bin Abu Thalib ia berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: Sesungguhnya bulan Rajab itu adalah bulan yang agung. Barang siapa yang puasa Rajab sehari niscaya Allah menulis baginya pahala sebagai puasa seribu tahun. Barang siapa yang puasa Rajab dua hari niscaya ditulis baginya pahala puasa dua ribu tahun. Barang siapa yang puasa Rajab tiga hari niscaya ditulis baginya pahala puasa tiga ribu tahun. Barang siapa yang puasa Rajab tujuh hari maka tujuh pintu Jahannam ditutup bagi dirinya. Barang siapa puasa Rajab delapan hari maka delapan pintu surga dibukakan bagi dirinya yang dia memasuki dari pintu yang dikehendaki. Dan siapa yang berpuasa Raja selama lima belas hari maka kesalahan-kesalahannya diganti dengan kebaikan dan dipanggil dari langit: “Allah telah mengampuni dosamu oleh karena itu mulailah lagi kamu beramal. Barang siapa yang menambah amalnya niscaya Allah yang Maha Mulia dan Maha Tinggi akan menambah pahala baginya” (HR.bin Ibraahiim al-Khatalie). Ketahuilah, HADITS INI BATIL sebagaimana keterangan Imam Adz-Dzahabie, karena dalam sanad hadits ini terdapat seorang rawi bernama: Ali bin Yazid Ash-Shada-I dimana Imam Abu Hatim menganggapnya sebagai rawi yang ditolak riwayatnya.
  5. Alasan ke-lima Ada hadits, konon Nabi SAW pernah bersabda:: Barang siapa yang puasa satu hari di bulan Rajab sama dengan ia berpuasa selama satu bulan. Dan siapa yang puasa Rajab tujuh hari maka tujuh pintu neraka ditutup untuknya. Dan siapa yang puasa Rajab delapan hari maka delapan pintu surga dibuka untuknya yang dia memasukinya melalui pintu yang dikehendaki. Dan siapa yang puasa Rajab sepuluh hari niscaya Allah Subhanahu Wa ta’ala menggantikan kesalahannya dengan kebaikan. Dan siapa yang puasa Rajab selama delapan belas hari niscaya seorang pemanggil menyerukan dengan perkataan bahwa Allah telah mengampuni dosamu yang telah lalu maka perbaharuilah amalmu. (HR. al-Khathiib). Ketahuilah, HADITS INI TIDAK SHAHIH (TIDAK SAH). Dalam sanad hadits ini terdapat beberapa kelemahan:  -1. Maimun bin Mahran tidak pernah berjumpa dan mendengar riwayat hadits dari Abu Dzarr sebagaimana ditegaskan oleh al-Hafidz Ibnu Hajar -2. Al-Farat bin Sa’ab, rawi hadits ini dilemahkan oleh Imam Ibnu Ma’in dan Daraquthnie. Imam Bukhari mengatakan bahwa riwayatnya itu mungkar sedangkan Imam Ahmad bin Hanbal memasukkan kedalam rawi yang tertuduh sebagai Pemalsu Hadits. -3. Rasyidin bin Sa’ad, rawi hadits ini pun termasuk rawi lemah
  6. Alasan ke-enam, Ada hadits, konon Nabi SAW pernah bersabda: “Barang siapa puasa Rajab satu hari maka ia seperti berpuasa satu tahun. Dan barang siapa puasa Rajab tujuh hari maka tujuh pintu neraka ditutup untuknya. Dan barang siapa puasa Rajab delapan hari maka delapan pintu surga dibuka untuknya. Dan barang siapa puasa Rajab selama sepuluh hari maka tidaklah ia meminta sesuatu kepada Allah melainkan akan diberikan apa yang dimintanya. Dan barang siapa puasa Rajab lima belas hari maka ia dipanggil dari langit dengan perkataan Aku telah mengampuni dosamu yang lalu karena itu perbaharuilah amalmu dan sesungguhnya Aku telah mengganti kesalahanmu dengan kebaikan. Dan barang siapa yang menambah, niscaya Allah menambah pahala baginya. Dan pada bulan Rajab Nuh naik diatas kapal lalu ia berpuasa dan hal itu ia perintahkan kepada orang-orang yang bersamanya untuk berpuasa sampai enam bulan hingga akhir yang demikian itu pada sepuluh hari pada bulan Muharram (HR. Baihaqie). Ketahuilah, HADITS INI TIDAK SAH. Dalam hadits ini terdapat Rawi yang dianggap lemah sebagai berikut: -1. Abdul Ghafur Abu Shabah al- Wasith dikenal oleh Ibnu Adie sebagai orang yang lemah dalam urusan hadits dan Munkarul Hadits (Pembawa hadits yang diingkari/ditolak riwayatnya), begitu juga Imam Ibnu Ma’in menganggap rawi hadits ini sebagai orang yang lemah. Imam Bukhari berkata bahwa Ulama-ulama hadits tidak suka mengambil riwayatnya sedangkan Imam Ibnu Hibban memasukkan rawi hadits ini sebagai kelompok pemalsu hadits. -2. Utsman bin Mathar, rawi hadits ini dilemahkan oleh Imam Abu Daud dan Imam Nasaa-I, sedangkan Imam Bukhari menganggap riwayatnya mungkar (wajib diingkari/ditolak) -3. Abdul ‘Aziz bin Sa’id, rawi hadits ini tidak pernah mendengar hadits dari Anas sebagaimana kata Imam Dzahabie. Selain Baihaqie, hadits ini diriwayatkan pula oleh Ibnu ‘Asakir. Akan tetapi dalam riwayat ini terdapat seorang rawi bernama Abdul Mun’im bin Idris al-Yamanie sedang dia dilemahkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dan Imam Bukhari. Imam Ibnu Hibban berkata bahwa rawi hadits ini adalah pemalsu hadits. Adapun Imam adz-Dzahabie mengatakan bahwa rawi ini tidak boleh dipercaya.

KESIMPULAN. Demikianlah hadits-hadits tentang keutamaan puasa Rajab yang  sementara dapat penulis kumpulkan. Berdasarkan  kaidah-kaidah ilmu hadits ternyata hadits-hadits yang dijadikan pegangan oleh kebanyakan orang tentang keutamaan puasa  dibulan Rajab ternyata TIDAK ADA YANG SAH bahkan derajatnya termasuk HADITS-HADITS PALSU (yaitu ucapan, perbuatan, keutamaan  sesuatu dan sebagainya yang disandarkan kepada Rasulullah yang dibawakan oleh orang-orang yang telah dikenal dikalangan ahli  ilmu hadits sebagai tukang dusta, tukang memalsu hadits dan tidak boleh dipercaya  periwayatannya). Dengan kata lain, seseorang atau sekelompok orang yang melakukan peribadatan dengan tidak didasari keterangan dan pemahaman  yang benar maka dia telah berbuat sesuatu yang tidak ada contohnya.

Rasulullah SAW pernah bersabda, “Barang siapa yang mengadakan sesuatu dalam urusan agama yang tidak kami perintahkan maka  perbuatan itu tertolak (tidak diberi pahala bahkan diancam siksa) (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam kaidah hukum Islam, aktifitas apapun apakah urusan akidah atau ibadah jika tidak dikerjakan atau dibenarkan Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam maka aktifitas itu dinamakan Bid’ah.

Rasulullah SAW bersabda:  “Maka siapa saja yang hidup sepeninggalku niscaya ia akan menemukan banyak perselisihan. Oleh  karena itu ikutlah sunnahku dan sunnah  para penerusku yang mendapat petunjuk (al-Khulafaur Raasyidun)…gigitlah (peganglah)  sunnah tersebut kuat-kuat dan jauhilah olehmu perkara-perkara baru yang diadakan orang karena apa yang diada-adakan tersebut  adalah  bid’ah”.

——————
penyesuaian dari: forum.dudung.net/index.php?topic=6553.0;wap2

Pengunjung

  • 566,558 sejak 21 Jan 2008

Berlangganan Via Email?

Klik banner ini jika anda ingin selalu mendapatkan informasi terbaru dari blog masbadar: Daftarkan e-mail Anda!

Komunitas Blogger Karawang

Artikel Masbadar Lainnya