Oleh-oleh dari Singapura
Oleh-oleh cerita yang selalu dibawa orang orang yang baru pulang dari Singapura adalah kekaguman mereka tentang pengaturan dan penegakan peraturan di kota tersebut. Meludah, menyeberang dan membuang sampah sudah tersedia peraturannya dan warga di seluruh penjuru kota mematuhinya dengan terpaksa maupun suka cita.
Banyak yang mengatakan bahwa salah satu ciri majunya peradaban suatu kaum tercermin dari kelengkapan peraturannya, ketersediaan perangkat untuk menegakkannya dan kepatuhan warga terhadap peraturan tersebut. Peraturan dibuat untuk dilaksanakan sehingga sangat berbeda dengan pemeo yang mengatakan bahwa peraturan memang sengaja dibuat untuk dilanggar.
Jika ketertiban mencerminkan suatu budaya bangsa maka seharusnya para pemeluk agama Islam lah yang paling patut diberi predikat berbudaya yang paling tinggi karena budayanya orang mu’min berpijak diatas akhlak mulia yang dituntun oleh dienul Islam tersebut, hanya saja kondisinya saat ini masih terbalik.
Mungkin salah satu pasal penyebabnya adalah karena saat ini masih ada kekurang mengertian kaum muslimin bahwa agamanya memuat peraturan paling komplit. Dienul Islam mengusung aturan berkaitan dengan perkara yang paling besar dan mendasar hingga perkara sehari-hari yang paling kecil sekecil anak ranting untuk dijadikan panduan.
Coba perhatikan di rumah bagaimana cara anak kita mengenakan terompah dan kasutnya, apakah dengan kaki kanan atau kaki kiri duluan? Begitu pula dengan makan dan minum, tangan yang manakah yang diutamakan dan saat menghadapi hidangan panasnya apakah ia hilang kesabarannya hingga dengan terpaksa harus meniup niup hidangan tersebut dengan angin nafasnya? Jika buah hati tersebut sempurna dalam pendidikannya tentunya ia akan melakukannya sesuai cara yang ditentukan baginya.
Sengaja tidak sengaja, anak yang lengkap terdidik jika sedang bersin akan mengucapkan hamdalah yang selanjutnya oleh saudaranya akan direspon dengan ucapan yang saling mendoakan. Seusai sekolah mereka tidak menghabiskan waktunya untuk bermain dengan mempermainkan atau menyiksa binatang untuk sekadar kesenangan, hanya saja jika kebetulan bertemu dengan cicak mereka sangat tahu apa yang harus dilakukan terhadap hewan penjahat kecil tersebut.
Tarbiyah memang harus dilakukan sejak dini. Itu mungkin kealpaan yang pernah kita ataupun sebagian orang tua kita di masa lampau. Naluri seluruh orang tua menginginkan agar buah hatinya kelak tumbuh berkembang dan menjadi orang dewasa yang lebih baik dari dirinya. Seorang anak tidak mencari pendidikannya sendiri. Bahkan seorang anak tidak pernah mampu membayangkan sosok ideal apa yang seharusnya ia capai di saat dewasanya nanti. Sangat penting bagi orang tuanya untuk menunjukkan anak tersebut seraya memprogramkan urut urutan pendidikan yang harus dilalui untuk meniti ke arah sosok ideal tersebut.
Singapura adalah buah dari pendidikan. Bandar tersebut merupakan gambar dari peraturan yang ditegakkan. Negara tersebut dihuni oleh orang orang yang mempunyai tarbiyah yang seragam dan sama tingginya. Empat puluh tahun lalu mereka lebih urakan daripada kita dan mereka pernah belajar dari orang tua kita.
Jika mengharapkan bandar kita ini dapat memberikan oleh oleh cerita yang sama seperti apa yang diberikan Singapore kepada pengunjungnya maka rasa rasanya kita perlu menghitung waktu berapa lama yang harus ditempuh anak anak kita yang ada untuk mennyelesaikan pendidikannya hingga dewasa, sehingga mereka kelak menggantikan kita menjadi pembina, pandega, penegak serta penganut aturan yang dapat memberikan cerita.
Pada suatu hari empat puluh tahun kedepan insya Allah di negeri-negeri seberang nun jauh di sana, banyak orang yang bercerita sepulang dari tanah kita bahwa di negeri ini setiap adzan dikumandangkan semua orang berbondong-bondong segera menuju masjid meninggalkan kegiatan, pasar beserta barang dagangannya tanpa sedikitpun kekhawatiran akan hilang, untuk mengambil tempatnya masing masing di shaf sholat. Sungguh oleh-oleh cerita seperti ini jauh lebih bernilai dibandingkan dengan sekadar cerita yang berkaitan dengan adab menyeberang, meludah dan membuang sampah.







6 comments
Comments feed for this article
19 Oktober 2009 pada 7:15 pm
Sugiarno
Sepertinya, bangsa ini perlu belajar lagi untuk menjadi manusia yang berbudaya, beradab, dan bermartabat. Salam.
21 Oktober 2009 pada 1:38 pm
Ardhie
sudah saatnya kita berubah, kalo mo maju dan lebih beradab
24 Oktober 2009 pada 10:05 am
Miss Cyber
setuju sama komentar diatas
2 November 2009 pada 3:46 pm
ismail lubis
Memang benar dengan apa yang anda utarakan tentang singapore,,,,,, tapi kita bisa liat segala macam kekurangannya yang mungkin anda juga tidak tau….. bila dilihat dari lahiriyahnya singapore memang sudah dikatakan sempurna untuk sebuah negara yang sangat kecil dan mungkin jauh lebih kecil dari jakarta…… singapore adalh negara sekuler, jika anda pernah dengar sebuah ungkapan “singapore juga pernah dikatakn sebagai LAS VEGASnya asia”…. dan yang lebih ekstrim lagi singapore juga pernah disebut2 dengan YAHUDInya asia…….
jika menunut segala kesempurnaan yang ada dalam ISLAM, memang tidak ada yang bisa mengalahkan islam dalam masala tata krama, tapi sang MUSTOFA NABIYULLAH MUHAMMAD SAW juga mengalami kesulitan untuk menerapkan ajaran islam itu sendiri…. bahkan sampai memakan waktu puluhan tahun dan sampai diusir dari kota yang ia cintai (MAKKAH)….. INDONESIA negara besar tapi tidak berarti memiliki keteladanan yang sama besarnya dengan ukuran negaranya, walau INDONESIA didominasi oleh muslim…. anda pernah denger orang SINGAPORE mencuri uang orang INDONESIA?, anda pernah denger orang SINGAPORE melarang anak muslim memakai jilbab ketka masuk sekolah?, anda pernah denger orang SINGAPORE menyiksa TKI INDONESIA?, anda pernah denger orang SINGAPORE menawarkan togel ke kebanyakan pengusaha INDONESIA?, anda pernah denger orang SINGAPORE sangat suka dengan bisnis ROK MINI/PROSTITUSI? DLL jadi seperti itukah hebatnya singapore dan apa yang ada pada dirinya yang anda banggakan?
wallahu a’lamu bishowab ya akhi…..!!!!!!
man nahnu? illa ‘ibaadihi aadho’iif
2 November 2009 pada 3:59 pm
masbadar
@Ismail Lubis: Itulah akar permasalahannya barangkali, bung Lubis. Dalam menjalani hal yg kita yakini sebagai sebuah kebenaran, banyak dari kita yg tidak disiplin, tidak konsist, tidak kommit, kurang istiqomah. Mereka (singapore) tidaklah mengetahui nilai keluhuran Islam, mereka pandang Islam dari kelakuan jamak kaum muslimnya. Singapore yang seperti anda katakan yahudinya asia dan lain-lain, kok bisa disiplin, konsist, kommit dan istiqomah dlm menjalani syariat mereka? China yang atheis kok bisa dgn tegas memangkas korupsi dan menekan pornografi, kok kita tidak?
Ah, bang Lubis, bacalah tulisan di atas hingga selesai, anda tidak baca endingnya sih, keburu emosi..
salam..
3 November 2009 pada 8:30 am
ismail lubis
alhmdullilah ada yang juga yang bereaksi dengan isi tulisan saya….. makasih bung masdabar yang bijak….. maaf bila isinya terlalu kasar dan mungkin tidak bernilai, saya hanya seorang muslim kolot yang tidak terima norma dan agamanya disenggol apalagi di hina walaun anda tidak melakukannya, buat saya segala kebesaran islam dan ajarannya adalah hal yang harus diserap dan dipegang dengan kesediaan hati, dan pastinya tidak mudah untuk mempelajarinya……..
mungkin kist bisa lebih kenal dengan dalam dan berbagi segala pengetahuan…….
saya tidak Emosi samma sekali bahkan saya sambil tersenyum dan tertawa waktu nulis komment kemarin…… mungkin karena saya orang batak jadi isi tulisannya sama dengan model bicaranya….. hahahahhahah
wasssssalam