Setiap mau ganti rezim selalu saja terjadi spekulasi siapa yang bakal menjadi menteri ini dan siapa yang menjadi menteri itu. Hal ini dikarenakan karena banyak sekali harapan yang akan di gantungkan kepada diri mereka. Jika di jaman orde yang sudah lalu ada istilah ganti menteri ganti peraturan tentunya istilah seperti itu jangan sampai terulang lagi.

Bangsa tentunya sangat mengharapkan suatu kepemerintahan yang cerdas, amanah, santun dan berwibawa, sehingga yang dirindukan untuk dipilih adalah menteri yang bisa mewakili karakter tersebut, tetapi yang patut tetap disadari adalah keberadaan kepemerintahan yang ideal, betapapun cantiknya kombinasi dan kesolidannya, tentunya bukanlah menjadi suatu sasaran akhir yang dituju. Sebaliknya pemerintah yang seperti itu adalah sebagai sarana atau wasilah yang diharapkan menjadi penentu sasaran pembangunan bangsa ini.

Lazimnya, ukuran keberhasilan suatu keperintahan adalah tingkat kemakmuran rakyatnya. Ukuran ukuran kemakmuran yang sering digunakan adalah seperti pertumbuhan ekonomi, GNP, GDP, neraca perdagangan dan lain sebagainya. Tanpa mengkesampingkan atau mengecilkan makna ukuran ukuran tersebut tentunya harus ada pemikiran yang agak mendalam dan lebih berani bahwa suatu kepemimpinan, kepemerintahan, atau kekuasaan adalah suatu amanah.

Jika makna suatu amanah selalu ditinjau dari sisi kerakyatan maka ukuran ukuran keberhasilan tersebut sangat valid dan dapat dipertanggung jawabkan, namun jika amanah haruslah ditinjau dari dimensi keilahian maka seyogyanya sang pemimpin beserta para anggota rezimnya haruslah berani mendefinisikan dan menetapkan ukuran ukuran lain yang paling relevan untuk  menilai kadar kegagalan dan keberhasilannya.

Kisah kisah yang dikandung kitab Allah cukup banyak memberikan contoh berbagi bangsa yang akhirnya gagal secara mengenaskan. Kaum ‘Aad, Madyan, Tsamud adalah sebagian contoh dari bangsa yang telah gagal mengemban amanah keilahian. Belum lagi kaum Nabi Nuh dan Nabi Luth. Kisah kisah tersebut mengajarkan kepada kita bahwa bangsa bangsa yang dianggap gagal selalu berakhir dengan didera dan dirajam bencana alam baik yang datangnya dari langit maupun dari dalam perut bumi. Itulah ukurannya.

Coba kita mengingat ingat berapa kali bangsa kita semasa bertahtanya rezim lalu dikarunia Allah dengan berbagai macam bencana alam.

Apakah lumpur yang menyembur tiada habisnya dari dalam perut bumi belum bisa dijadikan ukuran? Bagaimana dengan gempa dan tsunami terdashyat? Apakah arti dari banjir bandang yang sudah menjadi langganan? Bagaimana dengan situ yang bobol? Bagaimana dengan merapi yang urung meletus? Lantas mengapa hutan raya bisa terbakar? Apa sebab gempa dan gempa lagi datang saling silih berganti?

Rakyat ‘Aad dan rakyat dari kaum durhaka sejenis yang dikisahkan oleh orang yang bertilawah adalah orang orang yang ikut menderita hanyalah karena penyelewengan di kalangan penguasanya. Pada kenyataannya dan pada akhirnya mereka ikut menderita  karena ulah pemimpin yang sama sekali tidak pernah secara sengaja mereka pilih. Sekarang mari kita renungkan siapakah yang lebih pantas menderita karena ulah pemimpinnya. Apakah rakyat yang tidak pernah secara sengaja memilih pemimpinnya ataukah rakyat yang terang terangan melalui suatu pesta akbar dengan suka cita memberikan amanat kepada pemimpinnya secara langsung, jujur, adil, bebas dan rahasia?