RS_Omni International Tangerang; pasca kasus Prita Mulya Sari, kini rumah sakit itu sepi pasien, sebuah pelajaran bagi instansi manapun yang bertindak berlebihan dengan komersialisasi hak publik, tentu publik pulalah yang akan memberikan sangsinya.

prita_mulyasari_vs_rs_omni_international_tangerang

Itu belum cukup, mereka, pihak omni, harus berhadapan dengan interogasi salahsatu komisi dari DPR, seperti 10 tahun lalu ketika menangani kasus bank Bali, para anggota dewan yg kini hanya tinggal beberapa saat lagi menduduki kursi yang empuk, mungkin akan lebih ‘galak’  mempertanyakan kasus Prita Mulya Sari itu kepada RS Omni.

Internet ternyata bisa mempersatukan sebagian kecil masyarakat maya membela saudara sesama manusia mereka.

Berikut adalah berita dari vivanews.com tentang sepinya RS itu kini:

VIVAnews – Sejak kasus Prita Mulyasari merebak, suasana Rumah Sakit Omni Internasional Tangerang sedikit berubah. Rumah Sakit yang label internasionalnya dipertanyakan anggota Dewan Perwakilan Rakyat itu, lebih lengang dari biasanya.

Pantauan di lokasi, tidak banyak aktivitas di dalam Rumah Sakit Omni Internasional Tangerang, Banten, Selasa, 9 Juni 2009. Ruangan megah itu terlihat lebih lapang, karena yang ada hanya kegiatan pelayanan administrasi dan pelayanan farmasi.

Seorang petugas parkir Rumah Sakit yang tak mau disebutkan namanya mengatakan, sejak masalah Prita Mulyasari, volume kendaraan yang parkir semakin sepi. “Dulu itu ramai sekali mulai hari Senin. Parkiran penuh terus,” kata dia. “Tapi, ini sepi banget.”

Tidak banyak informasi diperoleh dari rumah sakit ini. Bahkan juru bicara Rumah Sakit sangat sedikit bicara. Untuk meminta keterangan soal kondisi terkini rumah sakit, wartawan harus ‘kucing-kucingan’ dulu dengan juru bicara rumah sakit, Hadi.

Saat dikonfirmasi, Hadi hanya memberi jawaban bahwa rumah sakit menghormati keputusan Dewan Perwakilan Rakyat, khususnya Komisi IC Bidang Kesehatan. Rumah Sakit menyerahkan sepenuhnya kepada Departemen Kesehatan.

Kasus Prita ini menyedot perhatian banyak pihak. Tiga calon presiden sudah berkomentar atas kasus yang berawal dari curhat soal keluhan pelayanan RS Omni Internasional ini.

Kasus bermula saat Prita memeriksakan kesehatannya di RS Omni Internasional pada 7 Agustus 2008. Prita mengeluhkan pelayanan yang diberikan oleh RS Omni Internasional dan juga dokter yang merawatnya melalui surat elektronik kepada sejumlah rekannya.

RS Omni Internasional kemudian merasa nama baiknya tercemar lantaran surat Prita tersebar di banyak milis. Prita ditahan sejak 13 Mei 2009.