Apa bedanya aktor dan politisi? Ya, aktor berakting di dunia hiburan, politisi berakting di dunia politik. Memang tidak selamanya politik itu penuh dengan kepura-puraan, tetapi dalam era demokrasi kini, entah apapun jenis demokrasinya, politik dan politisi sama-sama memuakkan. Merayu rakyat dgn manisnya janji yang ternyata kebanyakan omong kosong, lalu ketika menjadi dewan yang terhormat, tidur di kursi, atau menjual BUMN.

Berawal dari suksesnya bintang pilem terminator Arnold Waswisseger menjadi walikota sebuah kali di Amerika, maka secara fenomenal ngetrend juga di republik ini. Mungkin karena gak bsa membedakan antara sikap akting dan dan perilaku beneran, atau latah dgn sikap rakyat kalipornia (ngeja-nya yg bener yah..) yang konon amerika kan demokratis banget gitu deh, atau ngikut trik marketing dengan memasang artis biar dagangan jadi laris, mirip rokok yang memasang spg biar konsumen ngiler (sama spg-nya, he..he, padahal kalo kebanyakan ngisep rokok, gak bakal bisa membentuk tubuh seksi aduhai kayak milik si spg) atau bisa jadi rakyat memang udah bosan dengan figur-figur para politisi yg dibolak-dibalik sampe gosong juga yg itu-itu saja hanya ganti kaos partai dan sedikit polah plin-plan..maka bim salabim, abra kadabrah, jadilah kita bingung! Susah membedakan mana panggung politik mana panggung sandiwara.

Yusril ihza mahendra, ada yang aneh dgn politisi satu ini. Entah ingin membuktikan korelasi antara film dan politisi, atau memang sedang mengasah bakat yg terpendam, ia bermain film, kolosal lagi (lihatlah di youtube). Kita tahu kalo film-film kolosal berkaitan erat dengan prpolitikan, mulai dari suksesi raja, pemberontakan, kudeta, skandal seks, dan lain sebagainya; gak tahu deh kalo film kolosalnya macam caligula the movie..

Film adalah sebuah budaya. Bagaimanapun, budaya banyak dipergunakan untuk kendaraan politik. Ada banyak contoh yg saya tidak bisa sebutkan. Lihatlah, betapa hanya melalui sebuah rambo, Amerika bisa bangkit, meski sekadar menghibur diri dari keterpurukan dipencundangi vietkong di rawa-rawa pelosok vietnam.

Film, menurut saya, dapat dikatakan mewakili budaya, apapun budaya dari sebuah negara, maka film akan menjadi ikonya. Film-film jepang berlatarkan samurai kebanyakan sukses bahkan dikawinkan dengan holywood, begitu juga india yang selalu menampilkan kain sari dan joget dangdut serta sedikit pamer puser wanita, film india senantiasa lekat dgn budayanya.

China dgn kungfu-kungfunya, arab dengan latar padang pasir gersang, wanita bercadar, para ksatria berjanggut, dan banyak lagi. Indonesia bisa dikatakan bisa mewakili semua budaya dunia. Semuanya ada, dari kungfu china, cadar arab, tarian ala india hingga seks bebas ala amerika semisal yang lagi jadi hot isu, film ML, (saya gak mau bahas!!) Lantas mana budayanya..?

Tanpa edukasi yang memadai, sebab lebih mudah menjual produk kepada komsumen yang gak bawel nanya komposisi, kadaluarsa, dan sertifikat MUI, film-film Indonesia suatu saat hanya akan berputar putar dalam siklus sejarahnya. Keberadaan film-film nasional yang diawali dgn film- film penuh nuansa heroik nan religius pada awal kebangkitannya, lalu film-film kependekaran yg sarat filosofi, dilanjutkan film horor berbalut religi, lalu film komedi horor, komedi seks macam warkop, film-film panas, lalu abis itu mati.. dan sekarang kelihatannya akan terulang lagi, eksistensi film nasional hanya akan menjadi semacam siklus industri yang memanfaatkan budaya dan sedikit agama demi meraup uang dan popularitas sesaat tanpa memperhitungkan ekses-ekses tehadap budaya itu sendiri dan agama tentunya.

Dunia politik indonesia, terutama para politikusnya belum maksimal memanfaatkan sisi lain sinema sebagai alat dan tunggangan, berbeda dgn negara lain, bahkan politisi Turki beberapa tahun lalu menjadikan sinema, saya lupa judulnya, sebagai corong dan media tentang fakta kekejaman Amerika di Iraq.

Menyusul Wilder yang membuat fitna dan akhirnya membuat kedodoran bangsanya sendiri, pak SBY beberapa waktu lalu juga coba-coba casting, selain beliau juga ada bakat seni menyanyi. Masih korelasi film dan politik, lalu para aktor dunia hiburan ini coba terjun dan agaknya dewi fortuna berpihak. Mulai dari pak Sopan Sopian (Alm), Adjie Masaid, Dede Yusuf, si Doel dan akan segera menyusul yang lainnya. Agaknya fenomena ini akan segera menjadi sebuah trend yg…sangat fenomenal. Anda artis? ingin berbakti bagi pertiwi? saran saya; kalo kelebihan duit dan popularitas; sumbangkan saja buat pendidikan. Anda politikus dan ingin memanfaatkan sinema ini? lebih baik jangan, apapun yang anda buat, penonton akan melihat siapa yang membuat..he..he

————————-

tulisan saya asli. sumber: sedikit memori-memori dari isi kepala

—————————

UPDATED: “Turut berduka cita atas wafatnya seorang politisi sekaligus aktor berbakat; Bp. Sophan Sopian, dalam kecelakaan motor. Semoga beliau bukan termasuk politisi yang buruk, semoga segala amal baiknya di terima di sisiNya dan diampuni segala khilafnya”